MEMBENTUK KARAKTER BANGSA MELALUI
PEMBELAJARAN MATEMATIKA
YANG BERNUANSA ISLAMI
Oleh : Devi Utari
Prodi Pendidikan Matematika UIN
Sunan Gunung Djati Bandung
E-mail : utarydevia@gmail.com
Abstrak
Pendidikan budaya dan karakter bangsa dimaknai
sebagai pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa
pada diri peserta didik sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai
karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya,
sebagai anggota masyarakat, dan warganegara yang religius, nasionalis,
produktif dan kreatif.Pengembangan pendidikan karakter
tersebut memuat 18 nilai-nilai yang perlu dikembangkan dan sesungguhnya
berkorespondensidengan nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam pedoman
ajaran islamyakni Al-Qur’an dan Sunnah. Kini nilai-nilai pendidikan karakter diintegrasikan
dalam semua mata pelajaran termasuk matematika.Pembelajaran matematika
bernuansa islami dapat dijadikan referensi alternatif untuk membentuk karakter yang
berasaskan nilai-nilai agama tanpa melupakan nilai-nilai luhur budaya bangsa.
A.
PENDAHULUAN
Permasalahan
dunia pendidikan di Indonesia dewasa ini kerap kali menjadi sorotan dan tak
jarang menjadi topik perbincanganbaik itu di media cetak, media elektronik,
serta media masa lainnya. Selain itu, kalangan praktisi pendidikan, pemerhati pendidikan
maupun pemuka masyarakat berbicara mengenai pemasalahan budaya dan karakter
bangsa di berbagai forum diskusi atau seminar, baik pada tingkat lokal,
nasional, maupun internasional. Munculnya fenomena sosial mulai dari aksi
tawuran antar pelajar, demonstrasi anarkis oleh mahasiswa, tidak jujur saat
ujian, krisis budaya sopan santun, dan tindakan negatif lainnya, mengundang
keprihatinan dan kekwawatiran akan nasib bangsa yang berada ditangan generasi
muda. Tidak berlebihan jika kita menilai bahwa sistem pendidikan nasional
kurang berhasil dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional untuk membentuk
sumber daya manusia dengan karakter unggul dan berbudi pekerti luhur. Padahal
mutu dan kualitas sumber daya manusia yang baik dibutuhkan Indonesia untuk
membangun bangsa yang berkarakter mulia.
Sementara
itu, umat Islam memandang bahwa kerusakan yang terjadi merupakan kesalahan dari
manusia sendiri. Dalam QS. Ar-Rum (30:41) Allah berfirman sebagai berikut :
ظَهَرَالْفَسَادُفِيالْبَرِّوَالْبَحْرِبِمَاكَسَبَتْأَيْدِيالنَّاسِلِيُذِيقَهُمْبَعْضَالَّذِيعَمِلُوالَعَلَّهُمْيَرْجِعُونَ
“Telah nampak kerusakan di darat dan dilaut
disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada
mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan
yang benar).” (Departemen Agama RI,2006)
Tujuan pendidikan nasional pada intinya adalah mengembangkan
potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia. Dengan
kata lain, pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun
juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga akan lahir generasi bangsa di
masa depan yang tumbuh berkembang dengan karakter yang berasaskan nilai-nilai
luhur bangsa serta agama. Sebagai negara dengan mayoritas
penduduk beragama Islam, nilai-nilai keislaman mempunyai peranan yang sangat
signifikan dalam pembentukan karakter di Indonesia. Dalam Islam, pendidikan
yang terbaik tentunya adalah merujuk pada Al-Qur’an dan Sunnah serta ijtihad
para sahabat. Al-Qur’an sebagai sumber kebenaran utama dan pedoman bagi umat
Islam dalam menjalankan semua aspek kehidupan termasuk pendidikan. Demikian
pula. Sunnah merupakan sumber kebenaran kedua setelah Al-Qur’an dan dipahami
sebagai segala sesuatu yang disandarkan kepada Rasulallah SAW. Beliau merupakan
uswatun hasanah (QS.Al-Ahzab : 21)
dan prilakunya senantiasa terpelihara dan dikontrol oleh Allah (QS.An-Najm :
3-4) adalah jaminan Allah bahwa mencontoh Nabi dalam segala hal adalah suatu
keharusan (Sarjono,2005).
Pemerintah
sejak tahun 2010lalu telah merumuskanprogram Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa selanjutnya
disingkat PBKB, memuat prinsip untuk mengembangkan nilai-nilai pendidikan karakter
yang diintegrasikan dalam semua mata pelajaran. Melihat hal tersebut, maka
dengan menerapkan nilai-nilai keislaman dapat menjadi alternatif yang strategis
dalam pelaksanaan pendidikan budaya dan karakter bangsa di semua mata pelajaran
termasuk matematika. Pembelajaran matematika bernuansa islami yakni
pembelajaran olah fikir dengan mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dapat
dijadikan referensi alternatif untuk membentuk karakter yang berasaskan
nilai-nilai agama tanpa melupakan nilai-nilai luhur budaya bangsa.
B.
PEMBAHASAN
1.
Pendidikan
Budaya dan Karakter Bangsa
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (UU
Sisdiknas No. 20 tahun2003:2). Dalam proses pendidikan budaya dan karakter bangsa secara aktif peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya, melakukan proses internalisasi dan penghayatan nilai-nilai menjadi kepribadian mereka dalam bergaul di
masyarakat, dan mengembangkan kehidupan bangsa yang
bermartabat.
Menurut buku pedoman Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter
Bangsa (Pusat Kurikulum,2010) karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau
kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai
kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk
cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak.
Lebih lanjut buku
pedoman PBKB trsebut merumuskan bahwa pendidikan budaya dan karakter bangsa
adalah pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai karakter bangsa pada diri
peserta didik sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter
dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya sebagai
anggota masyarakat dan warga negara yang religius, nasionalis, produktif, dan
kreatif. Adapun nilai-nilai yang dirumuskan oleh Pusat Kurikulum Balitbang
Kemendiknas dalam pengembangan pendidikan karakter adalah sebagai berikut:
- Religius, adalah sikap dan perilaku patuh dalam melaksanakan ajaran agama yangdianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, serta hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
- Jujur, adalah perilaku yang menunjukkan dirinya sebagai orang yang dapatdipercaya, konsisten terhadap ucapan dan tindakan sesuai dengan hati nurani. Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa melalui Pembelajaran Matematika di SD.
- Toleransi, adalah sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan, baik perbedaan agama, suku, ras, sikap atau pendapat dirinya dengan orang lain.
- Disiplin, adalah tindakan yang menunjukkan adanya kepatuhan, ketertibanterhadap ketentuan dan peraturan yang berlaku.
- Kerja keras, adalah perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalammenghadapi dan mengatasi berbagai hambatan belajar, tugas atau yang lainnya dengan sungguh-sungguh dan pantang menyerah.
- Kreatif, adalah kemampuan olah pikir, olah rasa dan pola tindak yang dapat menghasilkan sesuatu yang baru dan inovatif.
- Mandiri, adalah sikap dan perilaku dalam bertindak yang tidak tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan suatu masalah atau tugas.
- Demokratis, adalah cara berpikir, bersikap dan bertindak dengan menempatkanhak dan kewajiban yang sama antara dirinya dengan orang lain.
- Rasa ingin tahu, adalah sikap dan tindakan yang menunjukkan upaya untuk mengetahui lebih dalam tentang sesuatu hal yang dilihat, didengar, dan dipelajari.
- Semangat kebangsaan, adalah cara berpikir, bertindak dan cara pandang yanglebih mendahulukan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan pribadi dan kelompok.
- Cinta tanah air, adalah cara berpikir, bersikap dan bertindak yang menunjukkan rasa kesetiaan yang tinggi terhadap bangsa dan negara.
- Menghargai prestasi, adalah sikap dan perilaku yang mendorong dirinya untuk secara ikhlas mengakui keberhasilan orang lain atau dirinya.
- Bersahabat/komunikatif, adalah tindakan yang mencerminkan atau memperlihatkan rasa senang dalam berbicara, bekerja atau bergaul bersama dengan orang lain.
- Cinta damai, adalah sikap perilaku, perkataan atau perbuatan yang membuat orang lain merasa senang, tentram dan damai.
- Gemar membaca, adalah sikap atau kebiasaan meluangkan waktu untuk membaca buku-buku yang bermanfaat dalam hidupnya, baik untuk kepentingan sendiri atau orang lain.
- Peduli lingkungan, adalah sikap perlaku dan tindakan untuk menjaga, melestarikan dan memperbaiki lingkungan hidup.
- Peduli sosial, adalah sikap dan tindakan yang selalu memperhatikan kepentinganorang lain dalam hidup dan kehidupan.
- Tanggung jawab, adalah sikap dan perilaku seseorang yang ditunjukkan dalam melaksanakan tugas sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku.
2.
Integrasi
Nilai-Nilai Ajaran Islam
Dalam
Islam, pendidikan yang terbaik tentunya adalah merujuk pada Al-Qur’an dan
Sunnah serta ijtihad para sahabat. Al-Qur’an sebagai sumber kebenaran utama dan
pedoman bagi umat Islam dalam menjalankan semua aspek kehidupan termasuk
pendidikan. Demikian pula. Sunnah merupakan sumber kebenaran kedua setelah
Al-Qur’an dan dipahami sebagai segala sesuatu yang disandarkan kepada
Rasulallah SAW. Beliau merupakan uswatun
hasanah (QS.Al-Ahzab : 21) dan prilakunya senantiasa terpelihara dan
dikontrol oleh Allah (QS.An-Najm : 3-4) adalah jaminan Allah bahwa mencontoh
Nabi dalam segala hal adalah suatu keharusan(Sarjono, 2005).
Allah berfirman dalam QS. Al Baqarah (2:177) sebagai berikut :
لَّيْسَالْبِرَّأَنتُوَلُّواْوُجُوهَكُمْقِبَلَالْمَشْرِقِوَالْمَغْرِبِوَلَـكِنَّالْبِرَّمَنْآمَنَبِاللّهِوَالْيَوْمِالآخِرِوَالْمَلآئِكَةِوَالْكِتَابِوَالنَّبِيِّينَوَآتَىالْمَالَعَلَىحُبِّهِذَوِيالْقُرْبَىوَالْيَتَامَىوَالْمَسَاكِينَوَابْنَالسَّبِيلِوَالسَّآئِلِينَوَفِيالرِّقَابِوَأَقَامَالصَّلاةَوَآتَىالزَّكَاةَوَالْمُوفُونَبِعَهْدِهِمْإِذَاعَاهَدُواْوَالصَّابِرِينَفِيالْبَأْسَاءوالضَّرَّاءوَحِينَالْبَأْسِأُولَـئِكَالَّذِينَصَدَقُواوَأُولَـئِكَهُمُالْمُتَّقُونَ
“Kebajikan itu bukanlah
menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah
(kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat,
kitab-kitab,dan nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada
kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan,
peminta-minta dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan solat dan
menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanj, dan
orang-orang yang sabardalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan.
Mereka itulah orang-orang yang benardan mereka itulah orang-orang yang
bertakwa.” (Departemen Agama RI,2006)
Menurut
Wira Indra (2013) pada QS. Al-Baqarah (2:177)
tersebut memuat beberapa indikator dan karakteristik manusia ideal yaitu
:
a.
Indikator : Beriman pada Allah,
malaikat, nabi, kitab suci
Karakter : Visioner, future, suci,
teladan, ilmuwan
b.
Indikator : Memberikan harta yang
dicintai pada kerabat, fakir miskin dan anak yatim
Karakter : Dermawan, cerdas
interpersonal, empati
c.
Indikator : Melaksanakan shalat dan
zakat
Karakter : Displin, religius,
pekerja keras
d.
Indikator : Memerdekakan umat dari
kebodohan, kemiskinan dan menepati janji
Karakter : Agen perubahan,
reformis, amanah
e.
Indikator : Sabar dalam kemelaratan dan
penderitaan
Karakter : Optimis dan memiliki
determinasi.
Apabila
kita perhatikan kandungan nilai-nilai karakter pada QS. Al-Baqarah (2:177)
diatas, akan kita dapati bahwa terdapat korespondensi antara 18 nilai-nilai
pendidikan karakter yang dirumuskan dalam program PBKB dengan ayat Al-Qur’an
tersebut. Bahkan nilai-nilai yang termuat dalam ayat-ayat Al-Qur’an cenderung
lebih kompleks dengan makna yang lebih mendalam. Sebenarnya masih banyak lagi
nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an maupun Sunnah tentang pendidikan
karakterjika kita mau mempelajarinya lebih lanjut. Untuk memudahkan pemahaman
mengenai hal tersebut dapat kita rumuskan menjadi tiga garis besar mengenai
nilai-nilai agama Islam,yaitu nilai aqidah, nilai akhlak dan nilai ibadah.
a. Nilai
Aqidah
Nilai aqidah yaitu nilai yang
berhubungan langsung dengan Allah SWT Nilai-nilai aqidah mengajarkan manusia
untuk percaya akan adanya Allah Yang Maha Esa dan Maha Kuasa sebagai Sang
Pencipta alam semesta, yang akan senantiasa mengawasi dan memperhitungkan segala
perbuatan manusia di dunia. Dengan merasa sepenuh hati bahwa Allah itu ada dan
Maha Kuasa, maka manusia akan lebih taat untuk menjalankan segala sesuatu yang
telah diperintahkan oleh Allah dan takut untuk berbuat dhalim atau kerusakan di
muka bumi ini.
b. Nilai
Akhlak
Nilai akhlak yaitu nilai yang
berhubungan dengan perbuatan manusia terhadap dirinya sendiri, orang lain serta
lingkungan dan alam semesta. Nilai-nilai akhlak mengajarkan kepada manusia
untuk bersikap dan berperilaku yang baik sesuai norma atau adab yang benar dan
baik, sehingga akan membawa pada kehidupan manusia yang tenteram, damai,
harmonis, dan seimbang.
c. Nilai
Ibadah
Nilai ibadah yaitu nilai yang
mengajarkan pada manusia agar dalam setiap perbuatannya senantiasa dilandasi
hati yang ikhlas guna mencapai rido Allah. Pengamalan konsep nilai-nilai ibadah
akan melahirkan manusia-manusia yang adil, jujur, dan suka membantu sesamanya.
3.
Pembelajaran
Matematika yang Bernuansa Islami
Pembelajaran matematika tidak terlepas dari ilmu-ilmu yang lain. Pembelajaran matematika juga dapat diintegrasikan dengan pendidikan agama, khususnya
agama Islam. Pembelajaran matematika berasaskan keislaman dapat digunakan untuk memperkuat karakter bangsa. Pembelajaran Matematika bernuansa
Islami adalah pembelajaran yang melibatkan proses berfikir matematis yang
dikembangkan dengan cara menanamkan nilai-nilai ajaran Islam sedemikian hingga
proses belajar lebih bermakna.
Sebagai (calon)
tenaga pendidik atau guru khususnya guru matematika yang terlibat dan berinteraksi
langsung dengan peserta didik, mereka memiliki peran strategis dalam menerapkan
pembelajaran matematika yang bernuansa Islami. Pada praktek pembelajarannya,
nilai-nilai ajaran Islam harus dirumuskan secara tertulis ke dalam bentuk
Indikator Penanaman Nilai yang disesuaikan dengan Standar Kompetensi dan
Kompetensi Dasar dalam seluruh perangkat pembelajaran yaitu mulai dari Silabus,
RPP, bahan ajar, media pembelajaran serta evaluasi pembelajaran. Segenap
perangkatpembelajaran yang telah
disusunharus diintegrasikan dalam materi tiap mata pelajaran. Dengan begitu tak satu pun materi yang terlepas
dari nilai sehingga siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi diharapkan memperoleh keberkahan dari ilmu itu sendiri.
4.
Membentuk
Karakter melalui Strategi Pembelajaran Matematika yang Bernuansa Islami
Dalam setiap
pembelajaran, diperlukan suatu cara atau strategi agar setiap materi dapat
dapat tersampaikan secara mudah dan efektif. Strategi Pembelajaran merupakan seperangkat metode yang dipilih dalam rangka melaksanakan proses pembelajaran. Sehingga strategi pembelajaran dapat memberikan kemudahan fasilitas kepada peserta didik menuju tercapainya tujuan pembelajaran. Menurut Yasri (2009), beberapa strategi pembelajaran
yang dikaitkan dengan penanaman nilai-nilai ajaran islam yang dapat dilakukan
dalam pembelajaran mata pelajaran matematika, yaitu: selalu menyebut nama Allah, penggunaan istilah, Ilustrasi visual,
aplikasi atau contoh-contoh, menyisipkan ayat atau hadits yang relevan,
penelusuran sejarah, jaringan topik, simbol ayat-ayat kauniah.
- Selalu menyebut nama Allah.Sebelum pembelajaran dimulai, ditradisikan diawali dengan membaca Basmalllah dan berdoa bersama-sama. Bahkan akan lebih baik jika dalam RPP memuat secara tertulis penyebutan atau pengucapan Basmallah dan membaca doa belajar. Kemudian pada setiap tahap demi tahap dalam penyelesaian permasalahan matematika serta ketika mengakhiri kegiatan pembelajaran diupayakan ditutup secara bersama-sama dengan mengucap Alhamdulillah. Tenaga pendidik atau pengajar hendaknya selalu mengingatkan kepada peserta didik betapa pentingnya kita selalu ingat kepada Allah, serta mengatas namakan Allah untuk segala aktivitas dan bersyukur kepada Allah, terlebih lagi ketika sedang menggali ilmu-Nya Allah.
- Penggunaan Istilah Istilah dalam matematika sangat banyak. Diantara istilah tersebut dapat dinuansi dengan peristilahan dalam ajaran islam, antara lain : penggunaan nama, peristiwa atau benda yang bernuansa islam. Misalnya : nama (Ahmad, Fatimah, Khodidjah), peristiwa (mewakafkan tanah dengan ukuran luas tertentu, kecepatan perjalanan ketika melakaukan sa’i dari Saffa ke Marwa waktu ibadah haji), benda-benda ( himpunan kitab-kitabsuci, himpunan masjid).
- Ilustrasi visual Alat-alat dan media pembelajaran dalam mata pelajaran matematika dapat divisualisasikan dengan gambar-gambar atau potret yang islami. Misalnya dalam membicarakan simetri dapat dicontohkan ornamen-ornamen masjid atau mushollah, dalam pembahasan bangun ruang dapat menampilkan ka’bah, dalam pembahasan bangun datar dapat menampilkan luas sajaddah.
- Aplikasi atau contoh-contohDalam menjelaskan suatu kompetensi dapat menggunakan bahan ajar dengan memberikan contoh-contoh aplikatif. Misalnya dalam pembahasan pecahan dapat dikaitkan dengan pembagian harta warisan yang sesuai dengan pedoman dalam Al-Qur’an (Surat An-Nisaa’ ayat 11 dan 12) dan Hadits. Materi tentang uang dan perdagangan dapat diterangkan dengan bantuan praktek bank syariah dengan sistem bagi hasil.
- Menyisipkan ayat atau hadist yang relevan Dalam pembahasan materi tertentu dapat menyisipkan ayat atau hadits yang relevan, misalnya dalam pembahasan aritmetika social, disisipkan ayat 9 dan 10 surat Al-Jumu’ah (tentang perniagaan) dan hadits tentang jual beli. Ketika membahas tentang sudut dan peta mata angin disisipkaan Al-Qur’an surat Al-An’am ayat 96 tentang peredaran matahari dan bulan. Ketika membahas pecahan disisipkan ayat 11 dan 12 surat An-Nisaa’ tentang tata cara pembagian warisan.
- Penelusuran sejarah Penjelasan suatu kompetensi dapat dikaitkan dengan sejarah perkembangan ilmu pengetahuan oleh sarjana muslim. Misalnya dalam pembahasan bilangan bulat dapat disampaikan penemu bilangan nol, pada penjelasan materi trigonometri dapat dijelaskan penemuan sinus dan kosinus oleh Ibnu Jabbir Al Battani, penemuan rumus akar persamaan kuadrat (terkenal rumus ABC) dalam aljabar yang ditemukan oleh Al Khawarizmi, yang menemukan sebuah bilangan yang dapat dibagi oleh semua angka yang ditemukan oleh Ali bin Abu Thalib.
- Jaringan topik Mengaitkan matematika dengan topic-topik dalam disiplin ilmu lain. Misalnya dalam menjelaskan bahasan tentang relasi dengan rantai makanan makan, seperti ayam makan padi, burung makan serangga, atau kerbau makan rumput dikaitkan dengan rizki yang Allah berikan kepada segenap makhluk-Nya di muka bumi ini. Atau menjelaskan tentang terbentuknya bangun ruang yang berasal dari bangun datar, bangun datar berasal dari sebuah garis, sebuah garis berasal dari sebuah titik yang akhirnya titik berasal dari sebuah zat yang diciptakan oleh Yang Serba Maha, yang sampai sekarang belum ada seorang pun yang mampu mendefinisikan sebuah titik, karena sebuah titik adalah rahasia Allah SWT.
- Simbol ayat-ayat kauniah (ayat-ayat alam semesta) Dalam mengajarkan tentang simetri putar dapat diberikan contoh betapa teraturnya Allah menciptakan gerakan beredarnya bulan mengelilingi bumi dan bumi mengelilingi matahari, atau tentang rotasi bumi pada sumbunya. Ketika mengajarkan tentang bilangan tak hingga dapat dikaitkan dengan banyaknya pasir di pantai atau berapa liter air laut di muka bumi ini atau berapa volume udara yang dihirup oleh makhluk hidup selama masih ada kehidupan di dunia ini.
Strategi ini akan efektif jika kita mengkaji dan
menyiasati materi yang kemungkinan bisa dinuansai atau disisipi nilai-nilai
ajaran Islam dalam pembelajaran dengan tidak menyimpang dari Standar Kompetensi
atau Kompetensi Dasar yang dijabarkan dalam uraian materi.Dengan penerapan dan pembiasaan pembelajaran
matematika bernuansa islami dapat dijadikan upaya alternatif untuk membentuk karakter insan Indonesia yang berasaskan
nilai-nilai agama tanpa melupakan nilai-nilai luhur budaya bangsa.
C.
KESIMPULAN
Pembelajaran
Matematika bernuansa Islami adalah pembelajaran yang melibatkan proses berfikir
matematis yang dikembangkan dengan cara menanamkan nilai-nilai ajaran Islam
sedemikian hingga proses belajar lebih bermakna. Nilai-nilai ajaran Islam dapat
rumuskan menjadi tiga garis besar yaitu nilai-nilai agama Islam yaitu nilai
aqidah, nilai akhlak dan nilai ibadah.
Diperlukan suatu cara atau strategi dalam pembelajaran matematika yang
bernuansa Islam. Strategi pembelajaran yang dikaitkan dengan penanaman
nilai-nilai ajaran islam dalam pembelajaran mata pelajaran matematika, yaitu: selalu menyebut nama Allah, penggunaan
istilah, Ilustrasi visual, aplikasi atau contoh-contoh, menyisipkan ayat atau
hadits yang relevan, penelusuran sejarah, jaringan topik, simbol ayat-ayat
kauniah.
Dengan penerapan dan pembiasaan pembelajaran
matematika bernuansa islami dapat dijadikan upaya alternatif dan diprediksi
dapat membentuk karakter insan
Indonesia yang berasaskan nilai-nilai agama tanpa melupakan
nilai-nilai luhur budaya bangsa.pembelajaran matematika bernuansa islami merupakan
sebuah rancangan proses pembelajaran yang tetap memerlukan pengkajian lebih dalam dan pengembangan lebih lanjut supaya lebih matang lagi.
DAFTAR
PUSTAKA
Departemen Agama RI. (2006). Al-Qur'an Dan Terjemahnya.
Surabaya: Karya Agung.
Sarjono. (2005). Nilai-Nilai Dasar Pendidikan Islam. Jurnal
Pendidikan Agama Islam , 138.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Pusat Kurikulum. (2010). Pengembangan
Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Jakarta: Puskur Balitbang Kemendiknas.
Wira Indra S (2013). Peran Guru Profesional Dalam Membangun
Karakter Anak Bangsa. 19.
Yusri.(2009). Strategi Pembelajaran
Matematika yang Bernuansa Islami.
0 comments:
Post a Comment